Selamat datang di label review buku ngawur ala Ais. Kali ini saya akan memberikan ulasan saya terhadap novel yang berjudul "Norwegian Wood" karya Haruki Murakami. Saya tertarik membaca karya Murakami dikarenakan karya yang satu ini banyak direkomendasikan teman-teman komunitas. Bahkan, katanya "Norwegian Wood" pasti ada di setiap rumah di Jepang. Akhirnya saya memutuskan menghabisi lembar demi lembar "Norwegian Wood". Menceritakan kisah Watanabe 37 tahun, sang tokoh utama yang terbang ke masa 18 tahun silamnya di Tokyo. Norwegian Wood yang menjadi judul novel ini merupakan lagu dari The Beatles yang membuat otak Watanabe terbang ke masa 18 tahun silam. Tokyo merupakan tempat Watanabe kuliah, di sana ia menetap di asrama satu kamar dengan Kopasgat si fasis yang cinta kebersihan nan konyol. Kehadiran kopasgat sungguh lucu, tetapi belum mampu membuat saya tertawa. Selain itu di asrama, Watanabe berteman dekat dengan Nagasawa-san, senior Watanabe yang sem...
Gender dan jenis kelamin merupakan dua hal yang berbeda. dua hal ini sering disalahpahami. Perlu diketahui bahwa jenis kelamin atau seks merupakan perbedaan biologis yang terjadi antara perempuan dan laki-laki. Sedangkan gender merupakan perbedaan peran laki-laki dan perempuan yg dipengaruhi oleh konstruksi sosial. Menurut Mansour Fakih peran pada individu dapat saling dipertukarkan antara cara laki-laki dan perempuan bersikap. Gender juga tidak bersifat kodrati, dapat berubah dan dapat dipertukarkan pada manusia satu ke manusia lainnya tergantung waktu dan budaya setempat. (Barker, 2008:) . Gender dapat diartikan sebagai perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan ditinjau dari segi nilai dan tingkah laku. Ini berarti perbedaan sikap dan tingkah laku pada jenis kelamin merupakan rekayasa masyarakat atau konstruksi sosial. Sebagaimana pendapat Mansour Fakih mengenai gender Bahwa gender dapat dipertukarkan sifatnya. Saya setuju dengan pendapat ini karena keprib...
Dua ratus hari, kuhabiskan waktu sebanyak itu di dalam kamar. Kali ini Aku telah memecahkan rekor terlama tinggal di rumah orang tua setelah tujuh tahun tinggal di asrama. Setiap hari kuisi rutinitasku dengan rutinitas anak rumahan pada umumnya. Seperti tidur, makan, membantu orang tua, membaca buku, dan menulis bualan sehari-hari. Siang itukurebahkan badanku di atas kasur yang nyaman, sembari mengelus layar smartphone. Mengelus smartphone adalah agenda wajib, apalagi saat ini ada yang namanya belajar daring alias dalam jaringan. Aku sedang membaca pesan-pesan di grup kelas, memeriksa keberadaan hal yang kadang menyenangkan tapi lebih banyak membebani, tentu saja tugas kuliah. Deru percakapan dari televisi mengganggu konsentrasiku dalam membaca. Letak kamarku berhadapan dengan ruangan di mana televisi sialan itu berbunyi. Bunyi televisi memberitakan hiruk pikuk duniawi memekakan telingaku yang cinta kedamaian. Tubuhku beralih menuju televisi yang menyala tanpa penonton, lan...
Comments
Post a Comment