Selamat datang di label review buku ngawur ala Ais. Kali ini saya akan memberikan ulasan saya terhadap novel yang berjudul "Norwegian Wood" karya Haruki Murakami. Saya tertarik membaca karya Murakami dikarenakan karya yang satu ini banyak direkomendasikan teman-teman komunitas. Bahkan, katanya "Norwegian Wood" pasti ada di setiap rumah di Jepang. Akhirnya saya memutuskan menghabisi lembar demi lembar "Norwegian Wood". Menceritakan kisah Watanabe 37 tahun, sang tokoh utama yang terbang ke masa 18 tahun silamnya di Tokyo. Norwegian Wood yang menjadi judul novel ini merupakan lagu dari The Beatles yang membuat otak Watanabe terbang ke masa 18 tahun silam. Tokyo merupakan tempat Watanabe kuliah, di sana ia menetap di asrama satu kamar dengan Kopasgat si fasis yang cinta kebersihan nan konyol. Kehadiran kopasgat sungguh lucu, tetapi belum mampu membuat saya tertawa. Selain itu di asrama, Watanabe berteman dekat dengan Nagasawa-san, senior Watanabe yang sem...
aa kono mama bokutachi no koe ga sekai no hashikko made kieru koto naku todoitari shitara ii no ni na soshitara nee futari de donna kotoba wo hanatou kieru koto nai yakusoku wo futari de "Se-no" de iou aa "Negattara nani ga shika ga kanau" sono kotoba no me wo mou mirenaku natta no wa ittai itsukara darou ka naniyue darou ka aa ame no yamu masa ni sono kirema to niji no shuppatsuten shuuten to kono inochi hateru basho ni nanika ga aru tte itsumo iihatteita itsuka ikou zenseimei mo m...
Dua ratus hari, kuhabiskan waktu sebanyak itu di dalam kamar. Kali ini Aku telah memecahkan rekor terlama tinggal di rumah orang tua setelah tujuh tahun tinggal di asrama. Setiap hari kuisi rutinitasku dengan rutinitas anak rumahan pada umumnya. Seperti tidur, makan, membantu orang tua, membaca buku, dan menulis bualan sehari-hari. Siang itukurebahkan badanku di atas kasur yang nyaman, sembari mengelus layar smartphone. Mengelus smartphone adalah agenda wajib, apalagi saat ini ada yang namanya belajar daring alias dalam jaringan. Aku sedang membaca pesan-pesan di grup kelas, memeriksa keberadaan hal yang kadang menyenangkan tapi lebih banyak membebani, tentu saja tugas kuliah. Deru percakapan dari televisi mengganggu konsentrasiku dalam membaca. Letak kamarku berhadapan dengan ruangan di mana televisi sialan itu berbunyi. Bunyi televisi memberitakan hiruk pikuk duniawi memekakan telingaku yang cinta kedamaian. Tubuhku beralih menuju televisi yang menyala tanpa penonton, lan...
Comments
Post a Comment